Sabtu, 20 September 2014

Keluarkan Darah: Penanganan Darurat Saat Stroke


Penyakit Stroke saat ini merupakan salah satu pembunuh nomor satu di Indonesia. Dapat terjadi secara mendadak dan dapat menyebabkan cacat permanen. Biasanya orang yang mendapati keluarganya tiba-tiba stroke akan kebingungan dan segera berupaya membawa keluarga tersebut secepat mungkin ke rumah sakit. Ternyata menurut Pakar Medis di Majalah Selaras, tindakan yang terburu-buru membawa pasien stroke ke rumah sakit malah dapat berakibat fatal ! Hal ini karena aliran darah sedang kondisi tidak normal karena penyumbatan, ditambah goncangan-goncangan di kendaraan dalam akan mempercepat proses pendarahan lebih lanjut di otak.
Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan sebagai penanganan darurat saat Stroke?
KELUARKAN DARAH
Kalau kita mendapati keluarga kita terkena serangan stroke, pertama-tama usahakan untuk tetap tenang dan tidak panik. Biarkan penderita tetap di tempat semula saat jatuh, jangan  langsung dipindahkan ! Setelah beberapa saat baru dibantu mengambil posisi duduk yang memungkinkan pengeluaran darah dapat dilakukan. Pengeluaran darah ini untuk membuka penyumbatan darahnya.
Untuk mengeluarkan darah dapat melakukan penusukan melalui jarum suntik, atau kalau tidak ada, dapat menggunakan jaruh pentul atau jarum jahit yang sudah disterilisasi dengan membakarnya terlebih dahulu di atas api.
Penusukan dilakukan pada ujung jari tangan kira-kira 1 cm dari ujung jari. Cukup 1 kali penusukan saja untuk mengeluarkan minimal 1 tetes darah. Lakukan penusukan pada 10 jari tangan. Dapat dilakukan pemencetan bila darah susah keluar. Kira-kira 10 menit, penderita biasanya akan sadar kembali.
Baru setelah itu kita dapat membawa penderita ke Rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut.
MULUT PEROT
Apabila penderita mengalami perot pada mulutnya, penanagan yang dapat kita lakukan adalah dengan menarik-narik kedua ujung telinganya sampai merah, setelah itu lakukan dua kali penusukan pada ujung bawah daun telinga sehingga darah keluar dari daun telinga. Insyaallah, bentuk mulut penderita akan kembali normal.

AWAS !! 10 Zat Berbahaya ini Tidak Boleh Ada dalam Makanan

AWAS !! 10 Zat Berbahaya ini Tidak Boleh Ada dalam Makanan
Pernahkah kita benar-benar menyadari apa yang kita makan, termasuk kandungan-kandungan di dalamnya? Ternyata tanpa kita sadari ada beberapa zat-zat yang berbahaya yang tidak boleh ada dalam makanan. Gangguan kesehatan yang  dapat terjadi bila zat tersebut kita makan dari alergi, muntah-muntah sampai  kematian. 
Berikut ini adalah zat-zat berbahaya yang tidak boleh ada dalam makanan:
1. Formalin
Zat ini apabila terdapat dalam makanan akan dapat menyebabkan kerusakan sistem syaraf dan kanker
2. Boraks : dapat menyebabkan alergi kulit, mual-mual, muntah, diare dan kerusakan ginjal
3. Rhodamin B: sejenis bahan pewarna yang dapat menyebabkan kanker, keracunana pada paru-paru, usus, hidung, tenggorokan dan mata
4. Sakarin dan aspartam : sejenis pemanis buatan yang diduga penyebab kanker kandung kemih, tumor otak dan gangguan syaraf
5. Styrene , yang berasal dari kemasan berbahan Styrofoam. Bila tanpa sengaja sering “terkonsumsi” oleh anak, dikahawatirkan membuatnya jadi pasif dan kehilangan kreativitas, selain itu juga dapat menyerang sistem syaraf. Pada orang dewasa, penumpukan styrene yang menyerang sistem syaraf dapat melahirkan  rasa gelisah, insomnia, dan anemia. Berdasarkan penelitian juga dapat mengganggu sistem reproduksi, seperti penurunan kesuburan dan kemandulan.
6. Timbal (Pb) : dapat menyebabkan kelelahan , gangguan pencernaan, gangguan sistem syaraf , gangguan libido, kemandulan pada pria dan keguguran.
7. Merkuri : dapat menimbulkan gangguan kulit, bahkan gangguan syaraf
8. Peptisida : dapat mengganggu mekanisme kerja impuls-implus pada sistem syaraf
9. Dioxin: sejenis zat yang terkandung dalam plastik. Zat penyebab kanker nomor 1 di dunia ! Dioxin dapat merusak sel hati dan pigmen darah, kanker prostat , kanker payudara, termasuk juga menyebabkan jerawat batu !

10. Monosodium Glutamat (MSG) : adalah garam natrium (sodium) dari asam glutamat suatu asam amino yang terdapat dalam semua jenis protein. Batas aman boleh dikonsumsi berdasarkan rekomendasi Badan Pengawas Obat dan Makanan AS adalah 2 gram, selebihnya dapat menyebabkan alergi dan  gangguan kesehatan lainnya.

6 Daftar Makanan Kaya Vitamin A Untuk Kesehatan Anda

6 Daftar Makanan Kaya Vitamin A Untuk Kesehatan Anda

Vitamin dan mineral adalah beberapa komponen yang sangat dibutuhkan tubuh untuk menjaga kesehatan. Salah satu vitamin yang sangat Anda butuhkan adalah vitamin A. Namun makanan seperti apa yang bisa memenuhi kebutuhan vitamin A Anda?

Nah, seperti dikutip www.stylecraze.com, selain tomat dan wortel, Anda bisa mendapatkannya dari makanan berikut ini

1. Hati ayam kalkun
Organ hati ayam, terutama ayam kalkun, mengandung banyak vitamin A. Paling tidak 100 gram hati ayam kalkun memberikan 1.507% dari Vitamin A yang diperlukan tubuh setiap hari, dan 100 gram hati kalkun mengandung 273 kalori.

2. Hati sapi
Begitu pula dengan hati sapi yang juga kaya vitamin A. Bukan hanya sumber vitamin A, namun juga vitamin C. Kedua vitamin tersebut berfungsi sebagai antioksidan kuat yang melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Sekitar 100 gram hati sapi mampu memberikan 300% dari kebutuhan vitamin A harian Anda. Namun Anda juga perlu hati-hati dan periksa hati sapi yang Anda beli sehat atau tidak.

3. Labu parang
Labu dengan warnanya yang orange cerah dna pekat juga memiliki banyak beta karoten yang baik untuk mata. Satu mangkuk labu parang memiliki 400% dari Vitamin A harian yang Anda butuhkan. Labu ini juga mengandung vitamin C, kalium, dan serat yang baik untuk kesehatan.

4. Sawi
Sayur hijau seperti sawi juga sangat baik dalam hal vitamin A. Anda bisa membuatnya sebagai jus dengan dicampur nanas, atau dimakan matang sebagai sayur tumis. Sayur ini memberikan 118% dari kebutuhan vitamin A harian Anda. Sawi juga merupakan sumber terkaya mangan, kalsium, karoten, folat, serat, protein, vitamin C, vitamin E, vitamin K, dan banyak antioksidan.

5. Mangga
Buah mangga yang sudah matang dan manis dengan warnanya yang kuning pekat hingga orange memiliki lebih banyak vitamin A. Selain sangat bagus untuk diet, mangga juga dapat memberikan 36% jumlah vitamin A harian Anda.

6. Bayam
Sayur hijau seperti bayam, juga banyak mengandung vitamin A dan mampu memberikan sekitar 200% kebutuhan vitamin A harian Anda. Bukan hanya itu, bayam juga mengandung vitamin B, C, K, magnesium, dan serat dalam jumlah yang besar.

Jadi, tidak usah bingung mau memilih makanan apa untuk bisa memenuhi kebutuhan vitamin A Ladies. Anda bahkan juga bisa makan anggur, pepaya, dan ubi ungu jika ingin memenuhi kebutuhan vitamin A.

Konsumsi Buah untuk Kesehatan

Konsumsi Buah untuk Kesehatan

Buah merupakan salah satu menu makanan yang menunjang kesehatan kita. Konsumsi buah sudah diketahui banyak orang sebagai pelengkap agar memenuhi menu makanan sehat karena buah memiliki nutrisi dan gizi yang diperlukan tubuh. Buah sangat bermanfaat bagi tubuh dan merupakan bagian yang tak terpisahkan agar kita dapat selalu sehat dan bugar. Buah juga dijadikan menu wajib untuk makanan Anda sehari-hari. Oleh karena itu, kita perlu tahu apa saja manfaat buah? Dan kandungan apa saja yang terkandung dalam buah untuk kesehatan tubuh kita?
Beberapa kandungan buah yang utama adalah air, vitamin, mineral, serat, antioksidan dan karbohidrat. Berikut ini akan dibahas apa saja yang terkandung dalam buah sehingga mendatangkan manfaat bagi tubuh kita:
  • Air

    Jadi jika kita kurang mengkonsumsi air 2 liter dalam 1 hari, kebutuhan air ini masih dapat terpenuhi dengan mengkonsumsi buah.
  • Vitamin dan mineral

    Sebagian besar buah mengandung vitamin yang bermanfaat seperti vitamin C dan E. Sedangkan mineral yang ada dalam buah misalnya kalsium, zink maupun mangaan. Vitamin dan mineral adalah zat yang membantu metabolisme kerja sel dalam tubuh. Kekurangan vitamin dan minerla menyebabkan metabolisme tidak berjalan dengan baik sehingga dapat mengganggu kesehatan atau kesegaran tubuh.
  • Serat

    Tubuh membutuhkan serat karena serat berguna dalam proses pencernaan. Dengan adanya serat maka proses penyerapan gula dan lemak yang buruk dalam saluran cerna dapat dihambat.
  • Antioksidan

    Merupakan zat yang menangkal radikal bebas yang masuk dalam tubuh. Radikal bebas adalah zat yang terdapat dalam polusi, aktivitas yang berlebihan, asap rokok dan kendaraan. Bila radikal bebas bertemu dengan kolesterol yang ada dalam tubuh makan akan membentuk bisul dalam tubuh sehingga dapat merusak sel endotel dalam pembuluh darah. Akibatnya, kolesterol akan mudah melekat dalam pembuluh darah.
  • Karbohidrat

    Karbohidrat digunakan sebagai sumber tenaga agar tubuh dapat melakukan aktivitas. Walaupun tidak banyak, tetapi buah memiliki karbohidrat kompleks yang terdiri dari glukosa dan fruktosa, dimana fruktosa yang masuk tidak membutuhkan hormon insulin untuk mengolahnya sehingga tidak membebani kerja pankreas, yang bila rusak dapat menyebabkan penyakit diabetes. Hal yang sangat berbeda bila kita mengkonsumsi gula.
Agar mendapatkan hasil yang maksimal, maka dianjurkan agar mengkonsumsi 10 porsi buah dengan 10 warna yang berbeda setiap hari. Jenis buah dengan warna berbeda misalnya: pisang, nanas, mangga, apel, jeruk, sawo, duku. Satu porsi satu buah utuh, bukan hanya potongan seperti rujak. Umumnya warna buah yang berbeda mengandung zat yang berbeda sehingga dapat saling melengkapi untuk memenuhi zat yang diperlukan oleh tubuh.
Dalam memilih buah sebaiknya dipilih yang warnanya mengkilap. Buah dengan warna terang atau mengkilap mengandung lebih banyak phytachemicals yang berarti lebih banyak kandungan antioksidan, lebih banyak mengandung vitamin dan mineral dibandingkan dengan buah yang kulitnya kusam.
Anjuran Food and Agriculture Organization (FAO) atau organisasi pangan PBB, dalam mengkonsumsi buah adalah 65,75 kg per kapita per tahun agar dapat tetap sehat. Jadi, jangan lupa untuk menambahkan buah dalam menu makanan Anda hari ini.

Makanan dalam Konteks "Nature" dan "Culture"


Tidak bisa dipungkiri bahwa makanan merupakan komponen budaya. Merupakan hasil adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Adaptasi terhadap apa-apa yang bisa dimakan dan apa-apa yang tabu untuk dimakan. Ini tentunya akan menjadi menarik karena makan bukan hanya tentang apa yang kita sukai untuk dimakan, tetapi juga nutrisi (faedah) apa yang kita dapat dari makanan. Beberapa makanan justru baik untuk tubuh namun tidak lazim dimakan dalam budaya tertentu, atau justru sebaliknya. Kajian mengenai ketahanan pangan tentunya harus tidak luput dari kompenen ini.

Dalam artian luas, makanan dapat diartikan sebagai senyawa yang dapat memberikan nilai gizi pada tubuh, memberikan energi, mendorong pertumbuhan dan sebagainya. Sehingga dapat dikatakan bahwa makanan itu adalah objek nyata yang dapat dideskripsikan dalam karegori fisik, kimia, biokimia dan lainnya. Oleh karena itu makanan dapat dihitung kuantitasnya dalam bentuk berat, kandungan senyawa kimia, sampai jumlah mikroba yang tumbuh didalamnya. Sebagai objek nyata makanan juga bisa dinilai secara subjektif oleh panca indera manusia. Melalui kemampuan manusia ini, makanan terkelompokkan menjadi banyak kategori berdasarkan tingkat kesukaannya.
Menurut Kolb & Wirsaw (2009), panca indera manusia juga punya "receptive field" maksudnya adalah manusia akan terbatas kemampuan inderanya dalam lingkungan receptive field ini. Untuk sementara ini, manusia hanya bisa merasakan 5 rasa yang berbeda di lidahnya. Oleh sebab itu masih banyak penelitian tentang "experience of taste" untuk mengetahui tingkat dan rasa suka itu sendiri.
Makan adalah proses mencerna makanan untuk mendapatkan gizi dari zat yang dimakan. Ada dua alasan utama terciptanya pola makan secara alamiah. Pertama, alasan kesehatan, manusia akan otomatis memilih makanan yang sehat dan menghindari makanan yang meracuni tubuhnya. Dengan porsi yang tepat dapat memenuhi asupan gizi mereka. Itu makanya, sangat mudah menentukan jumlah makanan yang ideal (sehat) untuk dikonsumsi dalam satu hari. Terciptanya pola makan secara alamiah kedua adalah karena "pengalaman menikmati makanan", sensasi yang ditimbulkan saat makan memberikan kepusan tersendiri terhadap pelakunya. Alasan inilah membuat seseorang untuk makan melebihi porsinya (subjektif). Bukan sekedar pemenuhan kebutuhan gizi namun lebih kepada pemenuhan kepuasan "psikologis". Salah satu studi yang dilakukan oleh Eldredge dan Agrs (1996) menunjukkan bahwa, orang gemuk cenderung akan makan lebih banyak apabila mereka dalam keadaan stress. Disini terlihat bahwa faktor subjetif muncul sebagi pembentuk pola makan mereka.
Perilaku yang berulang ulang seperti ini, membuat membiasaan dalam pola makan, yang lama-kelamaan menjadi suatu budaya makan. Kebisaaan ini secara tidak langsung merupakan bagian dari Pembudayaan pola diet tersebut.
Pertanyan lain yang muncul adalah kenapa komoditi yang sama disiapkan/dimasak menjadi makanan yang berbeda di setiap daerah di seluruh penjuru bumi ini? Menurut Lois Flandrin dan Massimo Montanari (1999), adalah karena teknologi, ekonomi, dan kondisi sosial yang berbeda. Sama sama diketahui bahwa proses pemasakan makanan akan merubah komponen gizi, begitu juga dengan pemilihan bahan mentahnya. Makanan sebagai bagian dari budaya, sangat erat kaitannya dengan bagaimana makanan itu disiapkan untuk lebih "baik" dengan keterbatasan sumber daya alam sekitar. Artian baik disini adalah yang sesuai dengan nilai-nilai agama (kepercayaan), adat, sejarah, dan lingkungan.
"Healthy eating and ejoying eating" menjadi konteks baru, konteks dimana antara "nature" dan "culture". Menjadikan "What is good for your body also good for your soul".

Mewaspadai Cemaran Arsenik Pada Beras

Mewaspadai Cemaran Arsenik Pada Beras

     BELUM lama ini, diberitakan di beberapa media nasional tentang dugaan adanya cemaran arsenik pada beras impor dari Thailand. Masih dalam ingatan kita, meninggalnya pejuang HAM nasional Munir, karena terpapar arsenik dalam jumlah tinggi. Berita adanya cemaran arsenik pada beras impor bukan berita baru, setidaknya media Jurnal Nasional sudah pernah menurunkan berita serupa pada Januari 2011.
Saat itu, disebutkan bahwa adanya dugaan cemaran arsenik pada beras impor yang berasal dari Vietnam membuat pemerintah dalam hal ini kementerian pertanian berjanji dan siap untuk melakukan kajian terhadap beras impor yang masuk ke Indonesia.

Hampir dua tahun berjalan setelah berita tersebut, penulis tidak menemukan adanya penelitian atau laporan yang menyebutkan analisis kandungan arsenik pada beras impor. Tulisan ini diharapkan dapat mengingatkan kembali pihak-pihak terkait untuk kembali memberikan perhatian yang serius adanya cemaran/kontaminan arsenik pada beras.

Kajian analisis arsenik beras impor yang ada di pasar merupakan tindakan mutlak yang harus dilakukan untuk memastikan tidak adanya cemaran arsenik pada beras. Tanpa adanya tindakan tersebut, maka isu-isu ini akan dapat saja muncul kapan saja di masa-masa mendatang.

Mengapa ada (dugaan) arsenik pada beras?

Dugaan adanya cemaran arsenik pada beras, dimulai adanya laporan penelitian yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciencesof the United States of America (PNAS) edisi 25 Januari 2011 dengan judul artikel Arsenic pollution of groundwater in Vietnam exacerbated by deep aquifer exploitation for more than a century. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa di DeltaSungai Merah (Red River Delta) ditemukan jumlah cemaran logam-logam toksik dalam jumlah yang mengkhawatirkan seperti mangan, selenium, dan arsenik.

Kandungan arsenikditemukan pada lokasi ini dapat dikhawatirkan dapat mencemari daerah pertanian yang terdapat di bagian Utara Vietnam. Seperti diketahui bahwa Delta Sungai Merah adalah dataran yang terbentuk oleh Sungai Merah di bagian Utara Vietnam. Daerah ini memiliki tingkat kepadatan jumlah penduduk yang tinggi dan sebagian besar lahan dikhususkan untuk budidaya padi.

Meskipun sumber irigasi pertanian di Vietnam berasal dari air sungai, tidak dapat dipungkiri kemungkinan adanya cemaran air tanah pada air sungai yang digunakan untuk pengairan lahan pertanian di bagian utara Vietnam. Adanya oksidasi sedimen Pleistocene dapat meningkatkan jumlah arsenik pada air tanah sehingga diduga menjadi sumber cemaran yang dapat mencemari air sungai untuk irigasi budidaya padi.

Manajemen keamanan pangan

Kontaminasi bahan pangan dapat terjadi dimulai saat penanaman/budidaya, produksi, distribusi/transportasi, retail, dan pengemasan sampai dengan penyajian dan konsumsi. Seiring dengan meningkatnya pengetahuan dan kesadaran akan kesehatan terhadap pangan yang dikonsumsi, mengkonsumsi pangan yang aman merupakan hal yang harus diperhatikan oleh produsen dan konsumen.

Berdasarkan UU Pangan No. 7 tahun 1996, keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia. Dengan demikian dapat disebutkan bahwa pangan yang aman adalah pangan yang tidak mengandung cemaran biologi atau mikrobiologi, cemaran kimia, dan cemaran fisik.

Arsenik memiliki karakteristik sebagai senyawa labil dalam bentuk oksida dan tingkat toksisitasnya sangat tergantung pada bentuk struktur kimianya. Arsenik merupakan komponen metal yang dapat ditemukan dalam bentuk organik maupun anorganik. Arsen anorganik seperti arsen pentaoksida memiliki sifat mudah larut dalam air, sedangkan arsen trioksida sukar larut di dalam air, tapi gampang larut di dalam lemak.

Cemaran arsenik dari produk pangan diduga lebih berbahaya bila dibandingkan dari cemaran yang berasal dari lingkungan (bukan dari produk pangan). Laporan EFSA menyebutkan bahwa arsenik dalam bentuk anorganik lebih berbahaya dibandingkan arsenik organik. Penyerapannya melalui saluran pencernaan dipengaruhi oleh tingkat kelarutan dalam air, sehingga arsen pentaoksida lebih mudah diserap dibanding arsen trioksida.

Sampai saat ini belum ada kesepakatan batas aman keberadaan arsenik pada beras untuk di konsumsi baik untuk tingkat nasional maupun di tingkat Internasional. Untuk itu perlu diadakan pembahasan, terutama kaitannya dengan beras sebagai sumber makanan pokok utama di Indonesia. Data batas aman sangat diperlukan untuk melakukan kajian risiko arsenik pada beras.

Berkaca dari laporan penelitian di Vietnam bahwa terjadinya peningkatan jumlah arsenik yang diakibatkan oleh oksidasi sedimen Pleistocene pada air tanah, maka langkah pertama yang dilakukan adalah memastikan bahwa sumber pengairan untuk penanaman padi di Indonesia tidak berasal dari air tanah. Selain itu, memastikan bahwa sumber air untuk pengairan budidaya padi di Indonesia tidak berasal dari daerah-daerah yang memiliki kemiripan dengan daerah DeltaSungai Merah. Tindakan awal ini dilakukan sebagai upaya preventif agar kemungkinan kontaminasi arsenik dapat dicegah sejak dini yaitu dengan memperhatikan sumber air untuk irigasi.

Langkah berikutnya adalah melakukan analisis kandungan arsenik pada beras yang berasal dari beberapa daerah pertanian di Indonesi baik di pulau Jawa maupun luar Jawa. Analisis ini diperlukan untuk mengetahui peta kemungkinan adanya cemaran arsenik beras lokal.

Dua langkah berikutnya yang penting dan segera dilakukan oleh lembaga-lembaga terkait untuk menghindari adanya isu-isu cemaran arsenik beras impor adalah melakukan kajian/analisis dan verifikasi analisis cemaran arsenik beras impor. Sampaikan secara terbuka kepada publik bahwa memang benar pemerintah tidak melakukan impor beras yang diduga mengandung cemaran arsenik. Tindakan verifikasi analisis oleh lembaga terpercaya dan pemantauan dilakukan oleh lembaga yang berkompeten di tanah air, seperti BPOM atau lembaga lainnya untuk memastikan beras yang diimpor benar-benar terbebas dari arsenik.

Jumat, 19 September 2014

Kurang Gizi dan Anemia

 
 
 
Kurang Gizi dan Anemia Masalah Kesehatan Indonesia Artikel tentang gizi dan penyakit anemia obat anemiaAnemia, merupakan masalah yang sering dialami oleh penduduk Indonesia. Anemia memang dianggap sepele oleh penduduk Indonesia, oleh sebab itu Anemia menjadi masalah terbanyak yang ditangani mulai dari puskesmas hingga rumahsakit. Perlu Anda ketahui bahwa ada banyak masalah gizi pada anak-anak di Indonesia, namun ada 2 yang dianggap memiliki dampak paling luas dan jangka panjang yakni kuntet (stunting) atau pendek dan anemia. Jika tidak diatasi, keduanya bisa memicu masalah kesehatan yang lain. "Kekurangan zat gizi mikro (penyebab kuntet dan anemia) sering tersembunyi dan tidak disadari, namun jika tidak diatasi bisa membawa dampak buruk dalam jangka panjang," kata Prof Dr Ir Hardinsyah, MS, ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor dalam acara Nutritalk Sari Husada di Hotel Sultan, seperti ditulis Rabu (1/8/2012). Zat gizi mikro yang mencakup vitamin dan mineral seperti zink, zat besi dan asam folat memiliki peran penting dalam pertumbuhan. Pembentukan tulang, gigi, sel, sistem pencernaan dan metabolisme bahkan sistem saraf dan kekebalan tubuh sangat dipengaruhi kecukupan gizi mikro. Akibatnya jika tidak terpenuhi, maka pertumbuhan anak akan terhambat dan berdampak hingga dewasa dan bahkan diwariskan pada generasi berikutnya. Terlebih, kecukupan zat gizi mikro tidak cuma dibutuhkan oleh anak-anak tetapi juga janin sejak masih dalam kandungan. "Kekurangan zat gizi mikro lebih sering terjadi terutama kekurangan kalsium, zat besi, zinc, asam folat, vitamin B12, C dan D pada anak, perempuan dan ibu hamil. Penyebabnya karena pola makan yang miskin sumber pangan hewani dan buah," lanjut Prof Hardinsyah. Solusi untuk mengatasi kekurangan zat gizi mikro menurut Prof Hardinsyah tidak cukup hanya dengan memberikan suplemen. Menurutnya, pendekatan lewat pangan akan memberikan solusi secara menyeluruh karena dengan makanan yang berimbang maka semua masalah gizi mikro otomatis akan teratasi. Baca - Cara Mengobati Anemia Pemberian suplemen dengan kandungan zat gizi tertentu hanya akan memberi penyelesaian pada jenis zat gizi tersebut. Kalau hanya mengandalkan suplemen, kekurangan zat gizi lain juga harus diatasi dengan suplemen lain dan itu sangat tidak efisien dibandingkan melalui pendekatan pangan. - See more at: .

Pangan Dan Gizi Sebagai Pilar Pembagun SDM

Pangan Dan Gizi Sebagai Pilar Pembangun SDM Manusia

PENDAHULUAN
Masalah pangan dan gizi merupakan masalah pokok yang mendasari seluruh kehidupan dan pembangunan bangsa.Masalah ini adalah masalah yang harus selalu mendapat perhatian ekstra dari pemerintah dan kita semua tentunya sebagai warga negara. Akar permasalahan pangan dan gizi sebenarnya adalah kemiskinan, ketidaktahuan, ketidak pedulian (ignorance), distribusi bahan pangan yang buruk, dan KKN.
Salah satu indikator keberhasilan yang dapat dipakai untuk mengukur keberhasilan suatu bangsa dalam membangun sumberdaya manusia adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index. Berdasarkan IPM maka pembangunan sumber daya manusia Indonesia belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pada tahun 2003, IPM Indonesia menempati urutan ke 112 dari 174 negara (UNDP 2003 dalam Beban Ganda Masalah dan Implikasinya Terhadap Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional, 2005). Sedangkan pada tahun 2004, IPM Indonesia menempati peringkat 111 dari 177 negara (UNDP 2004, dalam Beban Ganda Masalah dan Implikasinya Terhadap Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional, 2005), yang merupakan peringkat lebih rendah dibandingkan peringkat IPM negara-negara tetangga. Rendahnya IPM ini dipengaruhi oleh rendahnya status gizi dan kesehatan penduduk Indonesia (Hananto, 2002).
Keberhasilan pembangunan suatu bangsa sangat tergantung kepada keberhasilan bangsa itu sendiri dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, cerdas, dan produktif. Betapapun kayanya sumber alam yang tersedia bagi suatu bangsa tanpa adanya sumber daya manusia yang tangguh maka sulit diharapkan untuk berhasil membangun bangsa itu sendiri (Anonymous, 2011-a).
Kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas yaitu SDM yang sehat, cerdas dan  memiliki fisik yang tangguh serta produktif merupakan faktor utama yang diperlukan untuk melaksanakan pembangunan nasional. Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan keserasian antara perkembangan fisik dan perkembangan mental.
Hubungan Pangan dan Gizi
Gambar Sumber pangan dan gizi.
Pangan menurut UUD. No 9 Tahun 1996 Pasal 1 adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan,pengolahan,dan atau pembuatan makanan atau minuman.
Gizi adalah suatu proses yang terjadi pada makhluk hidup, untuk mengambil dan menggunakan zat yang ada dalam makanan dan minuman guna mempertahankan hidup, pertumbuhan, berproduksi dan untuk menghasilkan energi. Susunan pangan dalam makanan yang seimbang adalah susunan bahan pangan yang dapat menyediakan zat gizi penting dalam jumlah cukup yang diperlukan tubuh tenaga, pemeliharaan, pertumbuhan dan perbaikan jaringan.
Pangan menyediakan unsur-unsur kimia tubuh yang dikenal sebagai zat gizi. Pada gilirannya, zat gizi tersebut menyediakan tenaga bagai tubuh, mengatur proses dalam tubuh dan membuat lancarnya pertumbuhan serta memperbaiki jaringan tubuh. Beberapa diatara zat gizi yang disediakan oleh pangan tersebut disebut zat gizi esensial, mengingat kenyataan bahwa unsur-unsur tersebut tidak dapat dibentuk dalam tubuh, setidak-tidaknya dalam jumlah diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan yang normal, jadi zat esensial yang disediakan untuk tubuh yang dihasilkan dalam pangan, umumnya dalah zat gizi yang tiak dibentuk dalam tubuh dan harus disediakan dari unsur-unsur pangan diataranya adalah asam amino esensial semua zat esensial diperlukan untuk kesehatan yang baik. Kualitas pangan dan gizi seperti yang dijelaskan dalam al-quran dalam surat Al-Baqarah ayat 57 yang artinya :
Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “manna” dan “salwa”[53]. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (QS. Al – Baqarah : 57)
Pada umumnya zat gizi dibagi dalam enam kelompok utama, yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral,air. Sedangkan sejumlah pakar juga berpendapat bahwa air juga merupakan bagian dari zat gizi. Hal ini didasarkan kepada fungsi air dalam metabolisme makanan yang cukup penting walaupun air dapat disediakan di luar bahan pangan. Dalan konteks ini penulis lebih memilih memasukkan air dalam kelompok zat gizi, sehingga zat gizi erbagi kedalam enam kelompok yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air. Tiga golongan zat gizi yang dapat diubah menjadi energi adalah karbohidrat, protein dan lemak. Akan tetapi vitamin, mineral dan air diperlukan untuk membantu mengubah zat gizi tersebut menjadi energi atau menjadi sesuatu dalam biosintesis.
Susunan pangan dalam makanan yang seimbang adalah susunan bahan pangan yang dapat menyediakan zat gizi penting dalam jumlah cukup yang diperlukan tubuh untuk tenaga, pemeliharaan, pertumbuhan, dan perbaikan jaringan. Banyaknya gizi yang diperlukan, berbeda antara satu orang dengan orang lain disebabkan berbagai faktor yang dibicarakan kemudian, tetapi fungsi gizi pada pokoknya sama utnuk semua orang. Berdasarkan asaupan gizi tersebutlah seseorang akan mempunyai status gizi. Secara umum ada 3 status gizi yailtu status gizi kurng, status gizi seimbang (normal), dan status gizi lebih.
Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam mengalami krisis pangan tentunya menjadi hal yang aneh. Indonesia mempunyai 400 jenis tanaman penghasil buah, 370 jenis tanaman penghasil sayuran, 70 jenis tanaman berumbi, 60 jenis penyegar dan 55 jenis tanaman rempah-rempah (Ali Khomsan, 2004).
Krisis ekonomi, disusul krisis keuangan global, bermuara pada pertambahan jumlah warga miskin di Indonesia. Pemutusan hubungan kerja dan anjloknya daya beli adalah tsunami yang menghantam pilar kualitas gizi masyarakat. Kini anak balita yang mengalami gizi kurang dan gizi buruk mencapai 4,1 juta jiwa (Anonymous, 2011-b).
Selain minimnya lapangan kerja Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia pada saat dapat dikatakan belum bisa bersaing dengan SDM dari negara lain. Hal ini dikarenakan Indonesia masih memiliki problem dalam pembangunan manusia. Permasalahannya adalah adanya “celah” yang dimiliki oleh pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat di Indonesia terutama dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan peningkatan gizi. Pemenuhan kebutuhan pangan sangat penting untuk peningkatan SDM. Pangan sebagai basic need merupakan media bagi manusia untuk mempertahankan hidup mendapatkan energi pertumbuhan dan penggantian jaringan tubuh yang rusak. Pangan dapat juga dikatakan sebagai sumber gizi. Zat gizi tersebut sangat berguna bagi tubuh untuk mengatur segala proses dalam tubuh.
Pangan dan Gizi Sebagai Pilar Pembangunan Sumber Daya Manusia Indonesia

Gambar Pangan dan Gizi Pembangun SDM.
Jumlah penduduk yang besar, modal badan fisik biologis modal rohaniah dan mental, serta potensi efektif bangsa merupakan sebagian dari modal pembangunan. Membangun SDM seutuhnya berarti menjamin adanya peningkatan taraf hidup rakyat dari semua lapisan masyarakat dan golongan. Peningkatan taraf hidup rakyat tercermin pada kebutuhan pokok yaitu pangan, sandang, pemukiman, kesehatan, dan pendidikan. Kemajuan usaha pemenuhan kebutuhan pokok akan merupakan tolok ukur pencapaian pembangunan.  Masalah gizi yang terjadi pada masa tertentu akan menimbulkan masalah pembangunan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, usaha-usaha peningkatan gizi terutama harus ditunjukkan pada anak-anak dan ibu hamil. Karena pada masa yang akan datang anak-anak merupakan generasi penerus nusa dan bangsa.
Penundaan pemberian perhatian pemeliharaan gizi yang tepat pada anak-anak akan menurunkan potensi sebagai SDM pembangunan masyarakat dan ekonomi nasional. Berbagai alasan mengapa anak-anak memerlukan penanganan serius terutama jaminan ketersediaan zat gizi, yaitu:
a.   Kekurangan Gizi adalah penyebab utama kematian bayi dan anak-anak. Hal ini berarti berkurangnya kuantitas SDM di masa yang akan datang.
b.  Kekurangan Gizi berakibat meningkatkan angka kesakitan dan menurunnya produktifitas kerja manusia. Hal ini berarti dapat menambah beban pemerintah untuk meningkatkan fasilitas kesehatan.
c.   Kekurangan Gizi berakibat menurunnya kecerdasan anak-anak. Hal ini berarti menurunnya kualitas kecerdasan manusia pandai yang dibutuhkan dalam pembangunan bangsa.
d.  Kurangnya Gizi berakibat menurunnya daya tahan manusia untuk bekerja, yang berarti menurunnya prestasi dan produktivitas kerja manusia (Budiyanto, 2002).
Harusnya kecukupan pangan dan Gizi bukan merupakan landasan untuk semua proses kemajuan ekonomi dan sosial bangsa. Peningkatan Gizi masyarakat merupakan bagian integral pembangunan nasional. Oleh karena itu pemerintah membuat program perbaikan Gizi masyarakat yang meliputi penanggulangan kekurangan vitamin A, penanggulangan anemia Gizi, penanggulangan gondok endemic.
“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”.
(QS. An-Nahl : 114)
Pemenuhan kebutuhan pangan dan pemenuhan gizi akan membantu permasalahan krisis Sumber Daya Manusia Indonesia. Dengan pemberantasan masalah ini maka permasalahan rendahnya mutu SDM Indonesia dapat lebih ditingkatkan. Program pangan dan perbaikan gizi mulai mendapat perhatian khusus sejak Repelita II pemerintahan Orde Baru. Jelas hal ini bukan semata-mata karena kehendak seseorang atausekelompok masyarakat yang senang terhadap gizi, tetapi terutama karena GBHN menghendaki pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Konsep gizi seimbang yang mendukung meningkatkan SDM.
Masalah kesehatan masyarakat di Indonesia adalah masalah gizi kurang dan gizi lebih. Pola pertumbuhan dan status gizi merupakan indikator kesejahteraan. Oleh karena itu, perlu adanya program gizi yang berguna untuk mendorong kedua hal tersebut.
Pendidikan gizi merupakan salah satu unsur yang terkait dalam meningkatkan status gizi masyarakat jangka panjang. Melalui sosialisasi dan penyampaian pesan-pesan gizi yang praktis akan membentuk suatu keseimbangan bangsa antara gaya hidup dengan pola konsumsi masyarakat. Pengembangan pedoman gizi seimbang baik untuk petugas maupun masyarakat adalah salah satu strategi dalam mencapai perubahan pola konsumsi makanan yang ada di masyarakat dengan tujuan akhir yaitu tercapainya status gizi masyarakat yang lebih baik.
Setiap keluarga mempunyai masalah gizi yang berbeda-beda tergantung pada tingkat sosial ekonominya. Pada keluarga yang kaya dan tinggal diperkotaan, masalah gizi yang sering dihadapi adalah masalah kelebihan gizi yang disebut gizi lebih. Anggota keluarga ini mempunyai risiko tinggi untuk mudah menjadi gemuk dan rawan terhadap penyakit jantung, darah tinggi, diabetes, dan kanker.
Pada keluarga dengan tingkat sosial ekonominya rendah atau sering disebut keluarga miskin, umumnya sering menghadapi masalah kekurangan gizi yang disebut gizi kurang. Risiko penyakit yang mengancamnya adalah penyakit infeksi terutama diare dan infeksi saluran pernafasan atas (SPA), rendahnya tingkat intelektual dan produktifitas kerja.
Apabila ke dua masalah gizi tersebut dalam jumlah yang besar, akan menjadi masalah masyarakat dan selanjutnya menjadi masalah bangsa. Masyarakat yang terdiri dari keluarga yang menyandang masalah gizi, akan menyandang masalah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas rendah. Rendahnya kualitas sumber daya manusia merupakan tantangan berat dalam menghadapi persaingan bebas di era globalisasi. Untuk mencapai sasaran global dan perkembangan gizi masyarakat, perlu meningkatkan daya dangkal dan daya juang pembangunan kesehatan yang merupakan modal utama pembangunan nasional melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan secara berkelanjutan.
Gizi seimbang merupakan aneka ragam bahan pangan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan oleh tubuh, baik kualitas (fungsinya), maupun kuantitas (jumlahnya).Masalah gizi menyebabkan kualitas SDM menjadi rendah. Adapun tujuan program pangan dan gizi yang dikembangkan untuk mencapai Indonesia Sehat 2010 adalah :
  1. Meningkatkan ketersediaan komoditas pangan pokok dengan jumlah yang cukup, kualitas memadai dan tersedia sepanjang waktu melalui peningkatan produksi dan penganekaragaman serta pengembangan produksi olahan.
  2. Meningkatkan penganekaragaman konsumsi pangan untuk memantapkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga.
  3. Meningkatkan pelayanan gizi untuk mencapai keadaan gizi yang baik dengan menurunkan prevalensi gizi kurang dan gizi lebih.
  4. Meningkatkan kemandirian keluarga dalam upaya perbaikan status gizi untuk mencapai hidup sehat.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang, pada tahun 1992 telah diselenggarakan konggres gizi internasional di Roma yang membahas tentang pentingnya gizi seimbang sebagai upaya untuk menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang handal. Salah satu rekomendasi penting dari konggres itu adalah anjuran kepada setiap negara agar menyusun pedoman umum gizi seimbang (PUGS). Di Indonesia pernah diperkenalkan pedoman 4 sehat 5 sempurna padatahun 1950 dan sampai sekarang pedoman ini masih dikenal oleh sebagian anak sekolah dasar. Slogan 4 sehat 5 sempurna saat itu sebenarnya adalah merupakan bentuk implementasi PUGS.
Gizi Seimbang adalah makanan yang dikonsumsi oleh individu sehari-hari yang beraneka ragam dan memenuhi 5 kelompok zat gizi dalam jumlah yang cukup, tidak berlebihan dan tidak kekurangan (Dirjen BKM, 2002).Bahan makan sehat seimbang dikelompokan menjadi tiga fungsi utama gizi atau disebut juga dengan triguna makanan yaitu diantaranya:
  1. Sumber zat gizi yaitu padi-padian atau serella sepertiberas,jagung,gandum,sagu,umbi-umbi-umbian seperti ubi,singkong,dan talas;seperti hasil olahanya seperti tepung-tepungan,mie,roti,macaroni,havermount,bihun.
  2. Sumber zat pembangun yaitu sumber protein hewani,seperti daging,ayam,telur,susu dan keju;serta sumber protein nabati seperti kacang-kacangan berupa kacang kedelai,kacang tanah,kacang hijau,kacang merah dan kacang telo;seta hasil olahan seperti tempe,tahu,susu,kedelai,dan oncom.
  3. Sumber zat pengatur berupa sayuran dan buah.Sayuran diutamakan yang berwarna hijau dan kuning jingga,seperti bayam,daun singkong,daun katus,kangkung,wortel dan tomat;serta kacang-kacangan ,seperti kacang panjang,buncis dan kecipir,buah-buahan diutamakan yang berwarna kuning jingga kaya serat dan yang berasa asam,seperti pepeya,mangga,apel,dan jeruk.
Menu seimbang adalah menu yang terdiri dari beranekaragam makanan dengan jumlah dan proporsi yang sesuai, sehingga memenuhi kebutuhan gizi seseorang guna pemeliharaan dan perbaikan sel-sel tubuh dan proses kehidupan serta pertumbuhan dan perkembangan.Peranan berbagai kelompok bahan makanan tergambar dalam piramida gizi seimbang yang berbentuk kerucut. Populer dengan istilah “TRI GUNA MAKANAN”
Gambar Piramida Gizi Seimbang
Faktor yang Mempengaruhi Penyusunan Gizi Seimbang
  1. Ekonomi (terjangkau dengan keuangan keluarga)
  2. Sosial budaya (tidak bertentangan)
  3. Kondisi kesehatan
  4. Umur
  5. Berat badan
  6. Aktivitas
  7. Kebiasaan makan
  8. Ketersediaan pangan setempat
Pesan Umum Gizi Seimbang
  1. 1. Makanlah aneka ragam makanan
Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat untuk kesehatan. Makanan harus mengandung unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kuantitas maupun kualitas.
Idealnya, ada zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
  1. 2. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi
Kebutuhan energi dapat tercukupi dengan mengkonsumsi makanan sumber karbohidrat, protein dan lemak. Tanda kecukupan energi dapat dipantau dengan keadaan berat badan yang normal. Pemantauan berat badan dilakukan pada bayi, balita dan usia sekolah dengan menggunakan KMS; pada orang dewasa dengan penghitungan IMT (Indeks Massa Tubuh); dan pada lansia dengan KMS Usila.
  1. 3. Makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi
Dua kelompok karbohidrat adalah karbohidrat kompleks dan karbohidrat sederhana. Golongan karbohidrat kompleks: padi-padian (beras, jagung, gandum); umbi-umbian (singkong, ubi jalar, kentang) serta tepung, sagu dan pisang. Karbohidrat kompleks penyerapannya lebih lama sehingga tidak membuat mudah lapar.
  1. 4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi
Adapun guna lemak dan minyak adalah untuk meningkatkan jumlah energi, membantu penyerapan vitamin A, D, E, K dan menambah lezat hidangan.
  1. 5. Gunakan garam beryodium
Garam beryodium yang dianjurkan adalah garam dg KIO3 (Kalium iodat) sebanyak 30-80 ppm. Sesuai Keppres No. 69 tahun 1994 menyatakan bahwa kekurangan yodium dapat mengakibatkan GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium) gondok, kretin dan penurunan IQ.
  1. 6. Makanlah makanan sumber zat besi
Fe merupakan unsur penting untuk pembentukan sel darah merah. Kekurangan Fe dapat berakibat Anemia Gizi Besi (AGB). Adapun Tanda-tanda AGB : pucat, lemah lesu, pusing dan penglihatan berkunang-kunang, kadar Hb kurang dari normal.
  1. 7. Biasakan makan pagi
Manfaat makan pagi adalah untuk memelihara ketahanan fisik, mempertahankan daya tahan tubuh, meningkatkan produktifitas kerja dan meningkatkan konsentrasi belajar.
Kebiasaan makan pagi, membantu memenuhi kecukupan gizi sehari-hari. Sedangkan resiko tidak membiasakan makan pagi adalah gangguan kesehatan yang berupa menurunnya kadar gula darah.
  1. 8. Minumlah air bersih, aman yang cukup jumlahnya
Air yang kita minum harus bersih dan aman (bebas dri kuman). Fungsi air dalam tubuh adalah untuk melancarkan transportasi zat gizi dalam tubuh, mengatur keseimbangan cairan dan garam mineral dalam tubuh, mengatur suhu tubuh, melancarkan dlm buang air besar dan buang air kecil.
  1. 9. Lakukan aktivitas fisik secara teratur
Manfaat dari melakukan aktifitas fisik adalah meningkatkan kebugaran; mencegah kelebihan berat badan; meningkatkan fungsi jantung, paru dan otot; memperlambat proses penuaan. Olahraga teratur disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, pekerjaan dan kondisi kesehatan.
10.Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan
Selain bergizi lengkap dan seimbang, makanan juga harus layak konsumsi (aman untuk kesehatan). Syarat makanan aman adalah “wholesome” (zat-zat gizi tidak banyak yang hilang dan bentuk fisiknya masih utuh. Kecuali, bila makanan sengaja akan diolah dan diubah bentuk fisiknya.
Pangan dan Gizi untuk Pertumbuhan dan Kecerdasan
Konsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang dan aman dapat memenuhi kecukupan gizi individu untuk tumbuh dan berkembang. Gizi pada ibu hamil sangat berpengaruh pada perkembangan otak janin, sejak dari minggu ke empat pembuahan sampai lahir dan sampai anak berusia 2 tahun. Sejumlah penelitian telah menunjukkan peran penting zat gizi tidak saja pada pertumbuhan fisik tubuh tetapi juga dalam pertumbuhan otak, perkembangan perilaku, motorik, dan kecerdasan (Jalal, 2009). Martorell pada tahun 1996 telah menyimpulkan kekurangan gizi pada masa kehamilan dan anak usia dini menyebabkan keterlambatan dalam pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, dan gangguan perkembangan kognitif. Selain itu, akibat kekurangan gizi dapat berdampak pada perubahan perilaku sosial, berkurangnya perhatian dan kemampuan belajar sehingga berakibat pada rendahnya hasil belajar. Penelitian lain juga menyimpulkan bahwa intervensi gizi hanya akan efektif jika dilakukan selama kehamilan dan 2-3 tahun pertama kehidupan anak.
Pangan dan Gizi sebagai Penentu Daya Saing Bangsa.
The Global Competitiveness Report 2010-2011 yang dikeluarkan World Economic Forum pada September 2010 menyebutkan, peringkat daya saing Indonesia meningkat dengan sangat bermakna. Sementara pada 2009 daya saing Indonesia menduduki peringkat ke- 54 dari 144 negara dan tahun 2010 peringkat Indonesia naik 10 tingkat di posisi ke-44 dengan nilai 4,43. Posisi ini lebih baik dibanding India, meski masih berada di bawah Cina.
Peringkat Indonesia tidak buruk, bahkan Indonesia dinilai sebagai salah satu negara dengan prestasi terbaik. Tentu saja prestasi ini harus dipertahankan bahkan terus ditingkatkan, diantaranya dengan melakukan upaya perbaikan kualitas pangan dan gizi masyarakat.Jika tingkat konsumsi makanan seimbang dan bergizi baik maka akan meningkatkan status kesehatan yang merupakan salah satu indikator penting bersama pendidikan dalam menentukan daya saing bangsa. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pangan dalam rumah tangga terutama pada ibu hamil dan anak balita akan berakibat pada kekurangan gizi yang berdampak pada lahirnya generasi muda yang tidak berkualitas.
Apabila masalah ini tidak diatasi maka dalam jangka menengah dan panjang akan terjadi kehilangan generasi(generation lost) yang dapat mengganggu kelangsungan berbagai kepentingan bangsa dan negara. Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mentalyang kuat, kesehatan yang prima, serta tangkas dan cerdas. Bukti empiris menunjukkan bahwa hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik, dan status gizi yang baik ditentukan oleh jumlah dan kualitas asupan pangan yang dikonsumsi. Masalah gizi kurang dan buruk dipengaruhi langsung oleh faktor konsumsi makanan dan penyakit infeksi. Secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola asuh,ketersediaan dan konsumsi pangan beragam, faktor sosial-ekonomi,budaya dan politik. Gizi kurang dan gizi buruk yang terus terjadidapat menjadi faktor penghambat dalam pembangunan nasional.Investasi gizi berperan penting untuk memutuskan lingkaran setan kemiskinan dan kurang gizi sebagai upaya peningkatan kualitas SDM. Beberapa dampak buruk kurang gizi adalah: rendahnya produktivitas kerja, kehilangan kesempatan sekolah.
Dampak Gizi Buruk dan Lost Generation
Dampak tidak langsung adanya permasalahan pemenuhan gizi atau dalam hal ini gizi buruk, adalah Lost Generation atau ’generasi yang hilang’. Suatu masyarakat yang berkembang dalam keadaan kurang gizi akan melahirkan generasi yang tidak berkualitas. Anak yang lahir dalam kondisi kurang gizi akan menjadi anak yang lemah, rentan penyakit dan yang paling parah adalah IQ yang rendah.
Dapat dibayangkan jika di suatu negara terjadi endemik kasus gizi buruk maka anak-anak yang dilahirkan yang notabene adalah generasi penerus bangsa akan menjadi generasi yang lemah, rentan penyakit dan tingkat intelegensi yang rendah. Jika generasi yang diharapkan untuk meneruskan perkembangan bangsa adalah generasi yang tidak berkualitas, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa di negara tersebut telah kehilangan generasi atau lebih dikenal dengan Lost Generation.
Penderita gizi buruk dapat dilihat dari perbandingan berat badan menurut umur dan tinggi badan anak. Anak yang menderita gizi buruk dapat dilihat dari dua fase. Fase yang pertama adalah kurang gizi ringan, anak yang mengalami ini masih bisa bermain dan beraktivitas tetapi kondisi tubuh akan perlahan-lahan menurun,dan berat badan anak akan menyusut.Pada gizi buruk, anak akan rentan terhadap infeksi, terjadi pengurusan otot, pembengkakan hati, terjangkit TBC dan berbagai gangguan yang lain.Dampak yang ditimbulkan akibat gizi buruk, penderita akan terlihat apatis, mengalami gangguan bicara dangangguan lainnya. selain itu anak juga akan terhambat perkembangan dan pertumbuhan otaknya secara optimal. Jika anak terhambat perkembangan otaknya, akan sangat fatal bagi perkembangan anak sendiri,karena otak adalah aset vital bagi anak untuk menjadi manusia yang berkualitas dikemudian hari. Jika sajagizi buruk tidak segera ditanggulangi maka secara kasat mata akan terbentang kemiskinan di masa yangakan datang karena rendahnya kualitas sumber daya.
Gambar Akibat Gizi Buruk
Kondisi ini menunjukkan bahwa masa depan bangsa ini masih dalam kondisi terancam kehilangan generasi yang berkualitas. Generasi yang tumbuh dan berkembang dalam kondisi kurang gizi atau gizi buruk akan sulit bersaing dengan yang lainnya. Pada gilirannya mereka akan tersisih dan berpotensi menjadi mata rantai penyebab gizi buruk generasi berikutnya.Tentu saja hal tersebut tak boleh terjadi. Pembukaan Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun1945 telah mengamanatkan kepada penyelenggara negara untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Salah satu bentuk perlindungan kepada bangsa ini adalah upaya perlindungan dari bahaya laten kehilangan generasi yang diakibatkan gizi buruk. Secara khusus pelaksanaannya bisa mengacu pada UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, di mana pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat bersama-sama menjamin tersedianya bahan makanan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi secara merata dan terjangkau (pasal 141 ayat 3). Bahkan, pemerintah harus bertanggung jawab atas pemenuhan kecukupan gizi pada keluarga miskin dan dalam kondisi darurat(pasal 142 ayat 30). Lebih jauh lagi, pemerintah juga harus bertanggung jawab terhadap peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dan pengaruhnya terhadap peningkatan status gizi (pasal 143).
Upaya Meningkan Kualitas Sumber Daya Manusia

Gambar  Proses Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia.
Investasi di sektor sosial (gizi,kesehatan dan pendidikan) akan memperbaiki keadaan gizi masyarakat yang merupakan salah satu faktor penentu untuk meningkatkan kualitas SDM. Dengan meningkatnya kualitas SDM, akan meningkatkan produktivitas kerja yang selanjutnya akan meningkatkan ekonomi. Terjadinya perbaikan ekonomi akan mengurangi kemiskinan dan selanjutnya akan meningkatkan keadaan gizi, meningkatkan kualitas SDM. Meningkatkan produktivitas dan seterusnya.
Kualitas hidup masyarakat dipengaruhi oleh investasi yang telah dilakukan oleh pemerintah pada peningkatan kualitas sumber daya manusianya (pendidikan, kesehatan, dan sanitasi lingkungan) dan investasi pada pengembangan sarana dan prasarana ekonomi, disertai oleh kebijakan-kebijakan dalam konteks pemberdayaan masyarakat. Beberapa kebijakan yang dimaksud adalah:
Kebijakan Pembangunan dan Perbaikan Gizi
Kebijakan upaya perbaikan gizi dikembangkan dan diarahkan untuk meningkatkan status gizi masyarakat, Pada saat krisis ekonomi di Indonesia yang berlangsung cukup lama, kebijakan yang dilakukan bersifat penyelamatan (rescue) dan pencegahan “lost generation”, sekaligus pembaharuan (reform) agar kejadian ini tidak terulang kembali. Untuk itu maka kebijakan harus menjangkau berbagai faktor yaitu:
  1. Kebijakan jangka pendek, bertujuan menangani anak dan keluarga yang terpuruk akibat krisis. Program penyelamatan ini dikenal dengan Jaring Pengaman Sosial Bidang kesehatan (JPSBK) termasuk perbaikan gizi. Kebijakan diarahkan pada peningkatan upaya penanggulangan kasus pemulihan keadaan gizi anak, penurunan kematian akibat gizi buruk dan peningkatan mutu sumberdaya manusia melaui peningkatan keadaan gizi masyarakat.
  2. Kebijakan jangka menengah dan panjang, berupa reformasi kebijakan yang tujuannya adalah menyempurnakan subsistem pelayanan kesehatan dan pembiayaan kesehatan agar menjadi lebih proaktif, professional serta mandiri.
Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025 menegaskan bahwa “Pembangunan dan perbaikan gizi dilaksanakan secara lintas sektor meliputi produksi, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi pangan dengan kandungan gizi yang cukup, seimbang, serta terjamin keamanannya. Ketahananan pangan merupakan salah satu prioritas dalam Rencana Pembangunan Nasional Jangka Menengah Tahun 2010-2014 yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 5 Tahun 2010. Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2010 menginstruksikan perlunya disusun Rencana Aksi Pangan dan gizi nasional.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 secara tegas telah memberikan arah Pembangunan Pangan dan Gizi yaitu meningkatkan ketahanan pangan dan status kesehatan dan gizi masyarakat. Selanjutnya dalam Instruksi Presiden No. 3 tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan yang terkait dengan Rencana Tindak Upaya Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), ditegaskan perlunya disusun dokumen Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RAN-PG) 2011-2015 dan Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi (RAD-PG) 2011-2015 di 33 provinsi. Keluaran rencana aksi diharapkan dapat menjembatani pencapaian MDGs yang telah disepakati dalam RPJMN 2010-2014 yaitu menurunnya prevalensi gizi kurang anak balita menjadi 15,5 persen, menurunnya prevalensi pendek pada anak balita menjadi 32 persen, dan tercapainya konsumsi pangan dengan asupan kalori 2.000 Kkal/orang/hari. Dalam rencana aksi ini kebijakan pangan dan gizi disusun melalui pendekatan lima pilar pembangunan pangan dan gizi yang meliputi (1) perbaikan gizi masyarakat; (2) aksesibilitas pangan; (3) mutu dan keamanan pangan; (4) perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan (5) kelembagaan pangan dan gizi. Kebijakan tersebut adalah peningkatan status gizi masyarakat terutama ibu dan anak melalui ketersediaan, akses, konsumsi dan keamanan pangan, perilaku hidup bersih dan sehat
termasuk sadar gizi, sejalan dengan penguatan mekanisme koordinasi lintas bidang dan lintas program serta kemitraan. Sedangkan, strategi nasional yang menjabarkan kebijakan diatas meliputi:
1. Perbaikan gizi masyarakat, terutama pada ibu pra-hamil, ibu hamil, dan anak melalui   peningkatkan ketersediaan dan jangkauan pelayanan kesehatan berkelanjutan difokuskan pada intervensi gizi efektif pada ibu pra-hamil, ibu hamil, bayi, dan anak baduta.
2.  Peningkatan aksebilitas pangan yang beragam melalui peningkatan ketersediaan dan aksesibiltas pangan yang difokuskan pada keluarga rawan pangan dan miskin.
3. Peningkatan pengawasan mutu dan keamanan pangan melalui peningkatan pengawasan keamanan pangan yang difokuskan pada makanan jajanan yang memenuhi syarat dan produk industri rumah tangga (PIRT) tersertifikasi.
4. Peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) melalui peningkatan pemberdayaan masyarakat dan peran pimpinan formal serta non formal, terutama dalam peribahan perilaku atau budaya konsumsi pangan yang difokuskan pada penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal, perilaku hidup bersih dan sehat, serta merevitalisasi posyandu.
5.  Penguatan kelembagaan pangan dan gizi melalui penguatan kelembagaan pangan dan gizi di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten dan kota yang mempunyai kewenangan merumuskan kebijakan dan program bidang pangan dan gizi, termasuk sumber daya serta penelitian dan pengembangan. Untuk pelaksanaan kebijakan dan strategi di tingkat provinsi.
Dengan kata lain, kualitas hidup masyarakat dipengaruhi oleh terjadinya saling keterikatan dan sinergitas antara pengembangan ekonomi perkotaan, nonpertanian, dan sektor pertanian; peningkatan produksi pertanian dan nonpertanian yang berorientasi pada peningkatan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja untuk penyempurnaan lembaga pertanian untuk memfasilitasi pengelolaan sumber daya alam secara optimal dan pengelolaan konsumsi bernilai gizi tinggi dan sanitasi. Dengan dapat dicapainya keamanan dan ketahanan pangan secara berelanjutan, dan menghilangkan kemiskinan berarti pula kualitas hidup masyarakat pun dapat ditingkatkan.
Kesimpulan
Pangan dan gizi merupakan hal terpenting dalam pembangunan manusia di indonesia. Masalah pangan yang biasanya sering dihadapi adalah ketersediaan pangan dan kerawaaan konsumsi pangan yang di pengaruhi oleh kemiskinan, rendahnya pendidikan  dan adat kepercayaan yang terkait dengan tabu makanan.Sementara permasalahan gizi tidak terbatas pada kondisi kekurangan gizi saja melainkan juga pada pembangunan manusia di indonesia. Sehingga masalah pangan dan gizi sangat mempengaruhi perkembangan manusia di indonesia
Sehingga pangan dan gizi merupakan pilar pembangun Kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas yaitu SDM yang sehat, cerdas dan  memiliki fisik yang tangguh serta produktif merupakan faktor utama yang diperlukan untuk melaksanakan pembangunan nasional. Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan keserasian antara perkembangan fisik dan perkembangan mental.
Investasi di sektor sosial (gizi,kesehatan dan pendidikan) akan memperbaiki keadaan gizi masyarakat yang merupakan salah satu faktor penentu untuk meningkatkan kualitas SDM. Dengan meningkatnya kualitas SDM, akan meningkatkan produktivitas kerja yang selanjutnya akan meningkatkan ekonomi. Dengan terjadinya perbaikan ekonomi akan mengurangi kemiskinan dan selanjutnya akan meningkatkan keadaan gizi, meningkatkan kualitas SDM.
Bahaya Kekurangan dan Kelebihan Gizi


VIVAnews - Gangguan kesehatan tak selalu identik dengan kekurangan gizi, tapi juga kelebihan gizi. Keduanya sama-sama berdampak negatif terhadap kesehatan dan kualitas hidup manusia. Itulah yang kini menjadi fokus perhatian sejumlah pakar kesehatan di Indonesia.
Ahli gizi sekaligus Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Prof Soekirman, SKM, MPS-ID, PhD, mengatakan, kekurangan dan kelebihan gizi umumnya terjadi akibat perubahan pola makan yang tidak bergizi seimbang.
Kekurangan gizi ditandai dengan lambatnya pertumbuhan tubuh (terutama pada anak), daya tahan tubuh rendah, kurangnya tingkat intelegensia (kecerdasan), dan produktivitas yang rendah. Ini terjadi akibat asupan gizi di bawah kebutuhan.
Sementara kelebihan gizi ditandai dengan kelebihan berat badan. Ini jelas memperbesar risiko munculnya berbagai penyakit kronis degeneratif, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung. Kondisi ini terjadi karena asupan gizi melebihi kebutuhan.
Perlahan, masyarakat Indonesia mungkin sudah bisa lepas dari persoalan kekuarangan gizi. Yang terjadi justru memasuki masa transisi dari persoalan kurang gizi ke kelebihan gizi. Bahkan, masalah kelebihan gizi mulai menimpa masyarakat kelas ekonomi rendah.
Artinya, mereka dengan tingkat ekonomi rendah, bukan tak mungkin menderita penyakit kronis degeneratif seperti jantung. "Ini bisa lebih memberi beban ekonomi pada mereka,� kata Soekirman, di sela-sela acara 'Sehat dan Bugar Berkat Gizi Seimbang', Kamis, 27 Januari 2011.
Gemuk tak lagi menjadi simbol kemakmuran. Salah satu pemicunya adalah kehadiran junk food yang dangat terjangkau masyarakat kalangan bawah. Konsumsi makanan ini sangat buruk bagi kesehatan, apalagi jika tak diimbangi dengan olahraga seimbang.
Demikian pula masalah kekurangan gizi, yang bisa menimpa kalangan menengah ke atas. Umumnya terjadi akibat buruknya sanitasi lingkungan dan kebersihan diri yang potensial memicu penyakit infeksi seperti diare dan ISPA. Dan, mereka yang sering terkena infeksi potensial menderita kekurangan gizi.
Mengatasi persoalan kurang dan kelebihan gizi ini bisa dilakukan dengan memahami dan mempraktekkan pola makan bergizi seimbang. Caranya, konsumsi makanan bergizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai kebutuhan tubuh, usia, jenis kelamin, aktivitas fisik dan kondisi biologis.
Memperhatikan variasi makanan juga penting, selain menerapkan gaya hidup sehat seperti olahraga rutin, mengontrol berat badan, dan menjaga kebersihan diri. "Berbeda dari prinsip empat sehat lima semprna, yang hanya memperhatikan prinsip variasi makanan, tanpa menyesuaikan dengan kebutuhan tubuh berdasarkan usia, jenis kelamin, aktivitas fisik dan kondisi biologis."
Data status gizi berdasar riset kesehatan dasar 2010 di Indonesia menunjukkan, balita bertubuh kurus sebanyak 13,3 persen, dan balita bertubuh gemuk 14 persen. Lalu, anak 6-12 tahun, yang mengalami kegemukan 9,2 persen dan yang kurus 12,2 persen.
Sementara anak 13-15 tahun yang bertubuh gemuk mencapai 2,5 persen, dan yang kurus 10,1 persen. Anak 16-18 tahun yang bertubuh gemuk 1,4 persen dan yang kurus 8,9 persen. Sedangkan orang dewasa 18 tahun ke atas yang bertubuh gemuk 21,7 persen dan yang kurus 12,6 persen. (pet)
Vivanews.com

Rabu, 17 September 2014

efek gizi buruk bagi tubuh

hemmm... Gizi buruk sering kali menyelimuti beberapa wilayah negara di belahan bumi ini, hal ini menjadi sangat memprihatinkan bagi perkembangan suatu negara. Kondisi demikian bukan perkara mudah, perlu penanganan dalam mengantisipasinya. Jika suatu negara mengalami gizi buruk hampir berapa persen maka bisa memicu konsistensi perkembangan SDM menjadi terhambat.
Gizi yang buruk sering kali dialami oleh para balita dan anak-anak, di beberapa daerah terpencil yang bermata pencaharian sulit, cenderung perihal tersebut mewabah. Faktor kemiskinan, kurangnya mata pencaharian, kondisi lingkungan yang kurang memadai justru menjadi pemicu terjadinya gizi yang buruk. Bukankah setiap orang berhak mendapatkan penghidupan yang layak, ini menjadi bahan masukan bagi pemerintah yang wajib memberantas gizi buruk dikalangan masyarakat. Contoh yang paling memprihatinkan dari kondisi demikian adalah busung lapar.
Gizi buruk istilah yang sudah lama kita kenal, pengertian gizi buruk adalah kondisi dimana suatu masyarakat yang tidak maksimal dalam mendapatkan asupan makanan sehat yang dilatarbelakangi oleh beberapa faktor. Busung lapar merupakan contoh yang paling banyak kita temui dalam kasus gizi buruk. Kondisi ini membuat seorang anak atau balita mengalami kekurangan asupan makanan yang sehat dan bernutrisi.
Lama kelamaan akan menyebabkan perut membuncit, tulang pada tubuh lebih menonjol, serta menghambat tumbuh kembangnya. Hal ini bisa saja disebabkan oleh kurangnya pasokan sumber makanan, ketidaktersediaannya sumber makanan pokok serta penyertanya. Perihal ini dapat kita temui di wilayah afrika bagian selatan, negara-negara miskin, serta di beberapa daerah di Indonesia.
Beberapa efek dari gizi buruk antara lain :
1.Penyakit jantung dan masalah peredaran darah sebagai akibat dari obesitas
2.Sakit kepala normal atau migraine
3.Rabun senja akibat dari kekurangan vitamin A
4.Gusi berdarah, gigi longgar dan kelelahan umum akibat kekurangan vitamin C ( tubuh tidak menyimpan vitamin C dan kebutuhan vitamin C sehari-hari bervariasi dari orang ke orang )
5.Anemia dari besi cukup
6.Kurangnya fungsi motorik pada kaki, kaki sakit, mati rasa, lesi di sumsum tulang belakang, dan penyakit neurologis, semua mungkin akibat kekurangan vitamin B
7.Gangguan pencernaan, termasuk diare, mual, kram, IBS, nyeri, dan tumpukan, mungkin akibat dari diet yang tidak memadai
8.Ruam, gatal-gatal, alergi, sensitivitas dan masalah kulit lainnya mungkin akibat kekurangan vitamin
9.Kerontokan rambut, rambut kering atau rambut kusam

virgin coconut

Virgin Coconut Oil atau VCO adalah minyak yang dihasilkan dari sari buah kelapa segar yang diolah tanpa pemanasan atau dengan pemanasan terbatas, hingga diperoleh minyak berwarna bening (jernih) dan beraroma khas kelapa. Dalam pembuatannya, minyak kelapa ini tidak melibatkan penggunaan panas yang tinggi atau bahkan tidak menggunakan panas sama sekali dan juga tanpa penambahan bahan kimia.
Keberadaan minyak kelapa (VCO) ini mulai dilirik karena banyak memberi manfaat bagi kesehatan. Manfaat minyak ini tidak lepas dari kandungan asam lemak rantai sedang/ Medium Chain Fatty Acid (MCFA) khususnya asam laurat yang terdapat dalam kelapa. Sifat MCFA yang mudah diserap oleh mitokondria akan meningkatkan metabolisme tubuh.
Saat ini penggunaan VCO sudah meluas mulai dari diet, kesehatan, rumah tangga hingga kosmetik. Kepopulerannya semakin meningkat setelah Amerika Serikat yang sebelumnya lebih banyak mempromosikan keunggulan minyak non kelapa dibandingkan dengan minyak kelapa, mulai melirik minyak kelapa ini. Bahkan di Amerika minyak kelapa dikemas dalam bentuk kapsul atau dibungkus gelatin seperti halnya minyak ikan dan kini VCO menjadi obat yang cukup mahal.
Melihat potensi yang sangat bagus untuk pengembangan VCO ini, maka diperlukan terobosan baru dalam hal teknik memproduksinya. Berkaitan dengan itu maka akan dilakukan praktikum mengenai pembuatan VCO sebagai topik Praktikum Rekayasa Proses Pengolahan. Hal ini juga dilakukan untuk mengembalikan citra buruk yang sudah melekat pada minyak kelapa yang banyak mengandung kolesterol. Pembuatan minyak kelapa ini dilakukan untuk difersivikasi hasil pertanian berbasis kelapa dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.